Komitmen Bali untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan lingkungan bersih dan sehat sebagai upaya adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim juga dibarengi kemitraan dengan kelompok masyarakat. Berbagai inisiatif dari kelompok masyarakat sebagai akar rumput (grassroot) melalui gerakan inovasi berbasis data dan strategi berakar nilai budaya Bali mencerminkan kolaborasi dan keterlibatan masyarakat. Provinsi Bali sudah meluncurkan inisiatif Bali Emisi Nol Bersih 2045 pada Agustus 2023.
Inisiatif Bali Emisi Nol Bersih 2045 menjadi bukti komitmen dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Energi Bersih Bali, yang sekaligus menjadi tonggak perjalanan pembangunan hijau (green development) di Bali. Pemerintah bersama kelompok masyarakat sebagai mitra pembangunan menjadi wujud kolaborasi dan keterlibatan masyarakat melalui Koalisi Bali Emisi Nol Bersih.
Perihal itu diungkapkan Sofwan Hakim selaku Kepala Sekretariat Koalisi Bali Emisi Nol Bersih dalam sesi gelar wicara dan diskusi publik bertajuk “Bali Net Zero Emission Coalition: A Collaborative Effort to Transform Climate Ambition into Action” di Taman Baca, Ubud, Gianyar, Sabtu (26/10/2024). Sesi gelar wicara dan diskusi publik itu berlangsung serangkaian festival literasi Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024 di Ubud, Gianyar.
Sesi gelar wicara dan diskusi publik itu juga menghadirkan anggota Koalisi Bali Energi Nol Bersih (ENB), yakni, World Resources Institute (WRI) Indonesia, New Energy Nexus (NEX) Indonesia, dan CAST Foundation bersama Institute for Essential Service Reform (IESR). Acara dipandu pegiat perempuan dan jurnalis Bali Ni Ketut Sudiani. Lebih lanjut Sofwan Hakim mengatakan, target Bali untuk mewujudkan Bali Emisi Nol Bersih 2045 membutuhkan dukungan dan partisipasi pemerintah, para pemangku kepentingan terkait, dan seluruh lapisan masyarakat Bali.
Koalisi Bali ENB mendukung upaya Bali itu dengan mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan pembangunan hijau, yang berpijak pada nilai-nilai lokal masyarakat Bali.
Saat bersamaan, Koalisi Bali ENB juga mendorong kolaborasi dengan masyarakat untuk mencari solusi lokal berkelanjutan. “Koalisi Bali Emisi Nol Bersih berusaha mengembangkan dan menerapkan solusi-solusi lokal untuk teknologi rendah karbon, mendorong transisi energi yang adil, dan memposisikan Bali sebagai pilot model untuk penerapan kebijakan-kebijakan dan aksi-aksi emisi nol bersih di tingkat sub nasional,” kata Sofwan seperti dilansir rilis Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Minggu (27/10/202).
Pendiri dan Direktur BTI Energy and Electric Wheel Erlangga Bayu menjelaskan, kolaborasi bersama WRI Indonesia memungkinkan terbangunnya electric vehicle (EV) battery charging station, yang terhubung dengan panel Surya, di Desa Peliatan, Ubud, Gianyar. Erlangga menyatakan hal itu menjadi bentuk nyata koalisi untuk integrasi energi bersih di Ubud. Erlangga menyatakan harapannya agar model kolaborasi dengan pemanfaatan teknologi untuk transisi energi itu dapat diadopsi di tempat lainnya di Bali.
Dalam acara itu, Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum menerangkan perihal pemanfaatan energi terbarukan, yang tersedia melimpah di Bali, yang menjadi salah satu langkah strategis dalam mewujudkan Bali Emisi Nol Bersih 2045. Berdasarkan data IESR, potensi teknis energi terbarukan di Bali mencapai 143 gigawatt. IESR dalam Koalisi Bali ENB mendukung upaya Pemprov Bali menjadikan Nusa Penida sebagai wilayah, yang memanfaatkan 100 persen energi terbarukan pada 2030.
“Pada 2024, IESR telah menyelesaikan peta jalan untuk merealisasikan Nusa Penida sebagai pulau ikonis yang memanfaatkan 100 persen energi terbarukan pada 2030,” kata Marlistya. “Kami juga berharap isu energi dan lingkungan menjadi prioritas pemimpin daerah untuk memperkuat komitmen dan aksi menuju Bali Emisi Nol Bersih pada 2045,” ujarnya. Co-founder and CMO MagiFarm Ni Nyoman Rida Bimastini mengatakan, mereka bersama NEX Indonesia berkolaborasi mendorong komunitas akar rumput untuk mengadopsi solusi dan inovasi iklim, salah satunya di sektor food waste management di Bali. Ima menerangkan, masalah besar di Bali adalah sampah dan mayoritas sampah di Bali adalah sampah organik. Sampah organik dapat menghasilkan gas metana.
“Dengan dukungan New Energy Nexus, kami dapat bekerja sama dengan perangkat desa untuk mengelola sampah organik di TPS3R Kertalangu Kesiman dengan menggunaan siklus hidup black soldier fly untuk mengolah limbah organik secara efisien,” kata Ima. “Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian, solusi lokal perlu berkembang dan didukung masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya. Design Researcher di Fab Lab Bali Tafia Sabila Khairunnisa mengungkapkan, kolaborasi erat dengan masyarakat adalah penting dalam mengubah paradigma dari konsumen menjadi produsen, terutama dalam mendukung transisi energi bersih berdasarkan kebutuhan lokal.
“Melalui kegiatan kami di Serangan bersama CAST Foundation, kami menggunakan pendekatan kolaboratif dalam pengembangan teknologi, di mana komunitas berperan sebagai co creator,” papar Tafia dalam sesi diskusi di Ubud. Dengan memperkenalkan konsep fabrikasi digital dan pendekatan learning through making, menurut Tafia, teknologi bukan sekadar sarana, namun juga menjadi ruang eksperimen bagi komunitas untuk berinovasi. “Melalui pendekatan ini, kami berharap setiap desa dan komunitas dapat menjadi laboratorium inovasi berkelanjutan, yang memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan menuju ekonomi, yang regeneratif,” pungkas Tafia.
Penulis : Mahendra Putra
Tanggal : 27 Oktober 2024




